Harry potter
Lagi seru-serunya baca ebook harry potter……….
Mulai dari novel sampai other things that related to it…
Mau ebook-nya?
Just put your comment n ur email address…
i’ll send it to you…….:)
You are looking at posts that were written on November 18, 2008.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Oct | Dec » | |||||
| 1 | 2 | |||||
| 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |
| 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 |
| 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 |
| 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 |
Lagi seru-serunya baca ebook harry potter……….
Mulai dari novel sampai other things that related to it…
Mau ebook-nya?
Just put your comment n ur email address…
i’ll send it to you…….:)
Pendidikan disadari menjadi pilar utama dalam menciptakan generasi penerus bangsa di masa depan. Maju tidaknya suatu bangsa salah satunya bergantung pada kemampuannya meningkatkan kualitas pendidikan bagi rakyatnya. Namun demikian pada kenyataannya pilar utama ini masih sering terpinggirkan. Banyak faktor yang menyebabkannya; seperti kemampuan ekonomi bangsa tersebut, rendahnya kesadaran pembuat kebijakan, tingkat pengetahuan masyarakat tentang pentingnya arti pendidikan dan sebagainya.
Kondisi di atas semakin diperparah dengan perubahan-perubahan kurikulum pendidikan yang diterapkan. Satu kurikulum belum dipahami sepenuhnya oleh kalangan pendidik, sudah harus diganti dengan kurikulum lainnya seiring pergantian pembuat kebijakan pendidikan. Ironi dan paradoks yang selalu mewarnai perkembangan pendidikan di Indonesia. Merujuk pada penerapan kurikulum selama dua dekade terakhir ini kita mengalami tiga kali perubahan kurikulum; mulai dari kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sampai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Nampaknya perubahan kurikulum ini juga dipengaruhi oleh situasi sosial politik makro.
Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ini dapat dimaknai sebagai upaya penegakan otonomi sekolah. Oleh karena itu sekolah perlu didukung oleh para pemangku kepentingan seperti Komite Sekolah, pendidik (guru) serta mereka yang berwawasan dalam memahami substansi dan nilai-nilai pendidikan. Sebagaimana digariskan Departemen Pendidikan Nasional, dimana penyusunan kurikulum didasarkan pada Standard Kompetensi Lulusan dan Standard Isi hasil rumusan Badan Standard Nasional Pendidikan (BSNP) maka sekolah – dari SD sampai SMA – dapat menyusun kurikulum sendiri.
Persoalannya kemudian adalah apakah semua pelaku di sekolah sudah siap mewujudkan kebijakan tersebut? Belum tentu. Masih banyak tenaga pendidik yang membutuhkan peningkatan kompetensi dan pengetahuan terkait dengan penyusunan kurikulum di tingkat satuan pendidikan. Pada tataran makro penerapan KTSP ini erat kaitannya dengan perkembangan politik saat ini, yakni desentralisasi kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Sedangkan aspek mikronya terletak pada bagaimana seluruh sektor dan lembaga pendidikan yang paling bawah berupaya memajukan lingkungannya, yaitu sekolah (fisik maupun non-fisik).